Sabtu, 26 Mei 2012

Bahan Pengawet Dalam Saus Sambal dan Kecap


Natrium Benzoat (Sodium Benzoat)

Tak dapat dipungkiri dalam kehidupan yang serba praktis sekarang ini, kehadiran berbagai produk makanan dan minuman dalam kemasan menjadi pilihan banyak masyarakat. Padahal dalam proses produksinya, banyak produk yang tidak bisa lepas dari pemakaian bahan pengawet agar produknya itu tahan lama.

Bahan pengawet pada makanan dan minuman berfungsi menekan pertumbuhan mikro organisme yang merugikan, menghindarkan oksidasi makanan sekaligus menjaga nutrisi makanan. Ada beberapa bahan pengawet yang memang diperbolehkan untuk makanan dan minuman yang diperkenankan badan dunia. Hal ini ditetapkan dalam Kepmenkes (Keputusan Menteri Kesehatan). Tentunya Menteri Kesehatan membuat suatu keputusan bukan begitu saja. Sebab, di dunia ada komite yang terdiri atas pakar dari WHO, FAO dan perwakilan dari 185 negara yang menetapkan bahan-bahan tambahan apa yang boleh ditambahkan dalam makanan dan minuman dalam jumlah yang telah ditentukan. Termasuk pemanis, pengawet, pengempal, dan sebagainya.




Dalam mie instan, Natrium Benzoat terdapat dalam saus sambal. Pengawet Natrium benzoat adalah bahan pengawet yang diperbolehkan penggunaannya dalam makanan. Tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga oleh negara lain. Bahan pengawet kalium sorbat dan natrium benzoat aman digunakan dalam produk makanan dan minuman. Demikian persetujuan BPOM dan badan-badan otoritas internasional dalam keamanan pangan seperti FDA (Badan Administrasi Pangan dan Obat di Amerika Serikat), EU (Uni Eropa), FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian), WHO (Badan Kesehatan Dunia), serta CODEX (badan standarisasi pangan internasional).



Persetujuan ini telah melalui pengujian ekstensif yang membuktikan bahwa kedua bahan pengawet tersebut aman untuk kesehatan yang diatur dalam Permenkes No.722/Menkes/IX/88. Kedua bahan tersebut telah digunakan secara luas dalam berbagai produk makanan dan minuman di Indonesia maupun di mancanegara, sejak lebih dari 50 tahun lalu.



Natrium Benzoat dikenal juga dengan nama Sodium Benzoat atau Soda Benzoat. Bahan pengawet ini merupakan garam asam Sodium Benzoic, yaitu lemak tidak jenuh ganda yang telah disetujui penggunaannya oleh FDA (Badan Administrasi Pangan dan Obat di Amerika Serikat) dan telah digunakan oleh para produsen makanan dan minuman selama lebih dari 80 tahun untuk menekan pertumbuhan mikro organisme (jamur).



Menurut sebuah studi WHO, Natrium Benzoat adalah bahan pengawet yang digunakan untuk makanan dan minuman serta sangat cocok untuk jus buah maupun minuman ringan. Natrium Benzoat banyak digunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman seperti saus sambal, saus salad, saus tomat, kecap, margarin, mentega, mustard, selai, sirop buah, jus buah dan minuman ringan.

Natrium Benzoat secara alami terdapat pada apel, cengkeh, cranberry (sejenis buah berry yang digunakan untuk membuat agar-agar dan saus), kayu manis, prem (yang dikeringkan) dan lain-lain.




International Programme on Chemical Safety tidak menemukan adanya dampak terhadap kesehatan manusia dengan dosis sebesar 647-825 mg/kg berat badan per hari. Degradasi Natrium Benzoat (yang dihasilkan dalam tubuh dari garam sodium) telah dipelajari secara detail dan menunjukkan bahwa bahan-bahan ini tidak berbahaya. Sekitar 75-80% dikeluarkan dalam jangka waktu 6 jam dan seluruh dosis akan dikeluarkan dari dalam tubuh dalam jangka waktu sekitar 10 jam. Batasan yang ditentukan untuk Sodium Benzoat dalam makanan bukan karena sifat racunnya, melainkan karena jumlahnya melebihi 0.1%, bahan ini dapat meninggalkan rasa tertentu di mulut.






Nipagin (methyl p-hydroxybenzoate)

Nipagin merupakan zat tambahan untuk mencegah jamur dan ragi. Nama lain nipagin adalah methyl p-hydroxybenzoate, salah satu jenis parabens, atau pengawet, yang banyak digunakan untuk kosmetik dan obat. Nama lainnya lagi adalah methylparaben, dengan rumus kimia CH3(C6H4(OH)COO).

Menurut FDA (Food and Drug Administration), BPOM-nya Amerika Serikat, paraben yang digunakan dalam satu produk biasanya lebih dari satu jenis, yang digabung untuk memberikan perlindungan lebih dari berbagai jenis mikroorganisme.


Methylparaben dapat dihasilkan secara alami dan ditemukan dalam buah-buahan seperti blueberry.



Methylparaben juga dapat dimetabolisme oleh bakteri tanah sehingga benar-benar terurai, dan mudah diserap dari saluran pencernaan atau kulit, yang kemudian dihidrolisis menjadi asam p-hydrozybenzoate dan cepat dikeluarkan tanpa akumulasi dalam tubuh.



Nipagin dipakai dalam berbagai jenis makanan. Penggunaan pengawet ini diatur oleh Codex Alimentarius Commission (CAC), badan yang dibentuk FAO (Food and Agriculture Organization, Badan Pangan dan Pertanian) dan WHO (World Health Organization, Badan Kesehatan Dunia) untuk mengatur standar pangan. Dalam CAC, jumlah asupan nipagin dalam tubuh per hari (acceptable daily intake) adalah 10 mg/kg berat badan. Jika berat badan seseorang adalah 50 kg, maka konsumsi aman nipagin adalah 500 mg/hari. Sedangkan penggunaan maksimum nipagin adalah 1000 mg/kg produk. Di Indonesia, batas maksimumnya adalah 250 mg/kg produk, sama dengan di Singapura dan Malaysia.



Fungsi nipagin adalah menahan laju pertumbuhan mikroba yang membuat makanan cepat rusak. Penggunaan nipagin yang berlebih tidak memperpanjang daya tahan makanan jika jumlah mikroba dalam makanan itu telah berlebih sejak awal.



Penggunaan nipagin pada makanan sebenarnya dapat dihilangkan dengan teknologi temperatur ultratinggi. Namun, hal itu akan membuat nilai ekonomi barang menjadi tinggi. Laporan keracunan atau kematian akibat penggunaan nipagin pun belum pernah ada hingga kini.

Dalam mi instan, nipagin terdapat dalam kecap. Bila kecap dalam mi instan adalah 4 gram, maka kandungan nipaginnya adalah 1 mg, masih dalam batas aman karena standar maksimum di Indonesia adalah 250 mg/kg produk.


Nipagin dan asam benzoat dalam kadar yang tinggi diketahui dapat menyebabkan muntah bila dikonsumsi. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, zat pengawet ini bisa menyebabkan metabolic acidosis (terlalu banyak asam lambung).

BPOM, termasuk FDA, memasukkan methyl p-hydroxybenzoate sebagai pengawet yang aman, meski bahan ini diperbolehkan dipakai pada produk kosmetik dan farmasi.

Menurut BPOM, penggunaan nipagin di Indonesia masih dalam batas aman hingga saat ini. Hasil uji sampel pada kecap mi instan yang mengandung nipagin menunjukkan tidak ada kandungan nipagin yang melebihi batas maksimal.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, pada mie instan ditemukan nipagin 162,05 miligram per kilogram dan natrium benzoat 407,65 miligram per kilogram pada bumbu kecapnya. Pada saus sambalnya ada natrium benzoat 720,78 miligram per kilogram. Kadar kedua bahan pengawet pada kecap mie instan tersebut sesuai dengan ketentuan pemerintah maksimal 250 miligram per kilogram (nipagin) dan 600 miligram per kilogram (natrium benzoat) dan 1.000 miligram per kilogram natrium benzoat untuk saus sambal. Kedua pengawet juga tak terdapat di dalam mie-nya. Artinya, kadar pengawet di dalam mie instan masih dalam batas toleransi. 


Namun perkembangan yang terkini, produsen mie instan merk tertentu sudah tidak lagi menggunakan nipagin  di dalam kecap nya. Kendati Nipagin masih diperbolehkan penggunaannya oleh BPOM. Pengawet yang digunakan hanya Natrium Benzoat saja.



Batas maksimum penggunaan nipagin di tiap negara berbeda-beda. Bila di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Jepang adalah 250 mg/kg produk, di Amerika Serikat adalah 1000 mg/kg produk, sedangkan di Hongkong 550 mg/kg produk.

Batas konsumsi sejumlah Bahan Tambahan Pangan (BTP) di Indonesia jauh lebih ketat dibandingkan di Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Namun, hal itu tidak membuat industri di negara-negara tersebut menggunakan BTP hingga batas maksimum karena konsumen di negara-negara tersebut cenderung menghindari makanan yang mengandung BTP.

Kondisi berbeda terjadi di Indonesia. Kebanyakan konsumen di Indonesia biasanya tidak suka mengecek kandungan BTP dan mempelajari tulisan pada label makanan.
Penggunaan BTP jenis apapun, pengawet, pemanis, perisa, pewarna, penguat rasa, dll- mengandung resiko tersendiri bagi tubuh. Namun konsumsi bahan-bahan tersebut masih diperbolehkan dalam jumlah tertentu.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar