Jumat, 25 Mei 2012

Fakta Vs Mitos Mie Instan


Mitos : Metode dua air terpisah adalah cara terbaik memasak mie instan.
Fakta : Justru, air rebusan mie pertama mengandung kandungan betakaroten yang tinggi.


Semua vitamin (dari mie) yang larut dalam air terdapat dalam air rebusan pertama ketika memasak mie. Apabila air rebusan tadi diganti dengan air matang baru, semua vitaminnya hilang.


Selain itu, minyaklah yang membuat mie (atau makanan lain) lebih enak. Jadi, air rebusan pertama tidak perlu dibuang. Dan kandungan betakaroten juga tocoferol dalam minyak, sangat berguna memenuhi kebutuhan gizi.






Mitos : Mie instan mengandung lilin (wax). Oleh karena itu, ketika dimasak airnya menguning.

Fakta :  Salah. Mie instan tidak mengandung lilin.


Lilin adalah senyawa inert untuk melindungi makanan agar tidak basah dan cepat membusuk. Lilin sebenarnya ada pada makanan alami seperti apel atau kubis. Kubis jika dicuci dengan air, tidak langsung basah. Atau apel yang jika digosok akan mengilap. Itulah lilin, yang memang diciptakan alam.

Sementara mie instan, yang merupakan produk mie kering, sama sekali tidak membutuhkan lilin. Air menguning ketika memasak mie instan, sebenarnya didapat dari proses deep frying yang berkadar minyak tinggi.

Proses deep frying dilakukan agar kadar air bisa ditekan sampai titik terendah, sehingga mie instan lebih awet. Kadar minyak ini pasti tersisa pada mie dan menyebabkan mie instan mengilap, dan air rebusan jadi menguning dan berminyak.
Dengan minyak ini, zat-zat tidak berguna yang terdapat dalam mie dipisahkan, sehingga yang tersisa adalah zat-zat yang memang diperlukan oleh tubuh.






Mitos : Satu bungkus mie instan adalah buruk bagi kesehatan karena kandungan natrium (sodium) yang tinggi.
Fakta : Untuk setiap bungkus mie instan, rata-rata kandungan sodium hanya antara 1.000-1.500 miligram. 


Hanya 40-60% dari standar yang direkomendasikan. Sesuai dengan Departemen Kesehatan, asupan natrium memungkinkan kita per hari tidak boleh lebih dari 2.400 miligram. 

Mie instan tidak berbahaya. Namun, harus dikonsumsi dalam jumlah sedang, tidak berlebihan dan perlu dilengkapi dengan berbagai makanan seperti sayuran, protein dan buah-buahan agar diet seimbang. 








Mitos : Biasanya, kita memasak mie instan dengan merebus mie ke dalam panci lalu memasukkan bumbu dan membiarkannya masak selama 3 menit. Dengan melakukan ini, ketika kita benar-benar merebus bumbu yang mengandung MSG, hal ini akan mengubah struktur molekul MSG dan menyebabkan menjadi racun. 



Fakta : Tidak benar.


Monosodium glutamat, atau MSG, adalah penguat rasa, diklasifikasikan oleh FDA (Food and Drug Administration) dan umumnya diakui sebagai bahan tambahan pangan yang aman. Demikian juga, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memilih untuk tidak menetapkan batas pada Acceptable Daily Intake (ADI) untuk MSG, dan mengelompokkannya sebagai kategori "tidak ditentukan", yaitu kategori paling aman untuk bahan tambahan makanan. 

Umumnya, MSG ditambahkan pada makanan sebelum, selama atau setelah memasak. Ini adalah unsur makanan yang stabil, yang berarti bahwa hal ini tidak akan mengubah struktur molekul ketika ditambahkan ke air mendidih atau dengan bahan lainnya. Oleh karena itu, tidak akan menyebabkan mie instan menjadi beracun. Struktur MSG hanya akan berubah bila dipanaskan pada suhu 120 derajat Celcius. Dan hal ini tidak akan tercapai, karena suhu pada saat air mendidih adalah 100 derajat Celcius.
Sangat disarankan untuk memasak sesuai dengan saran penyajian, agar rasa, aroma dan vitamin yang terdapat dalam bumbu tidak berkurang atau hilang.







Mitos : Mie instan adalah makanan yang tidak bergizi. 
Fakta Untuk mengatakan bahwa mie instan tidak memiliki nilai nutrisi sebagai makanan adalah sebuah kesalahpahaman.


Mie instan yang telah disertifikasi oleh BPOM/Depkes telah diperkaya dengan zat gizi mikro esensial, yaitu Vitamin A, Vitamin B, Niasin, Asam Folat, Pantotenat dan zat besi.







Mitos : Mie instan menyebabkan pankreatitis. 

Fakta : Mie instan bukan penyebab pankreatitis.


Penyalahgunaan alkohol dan batu empedu adalah 2 penyebab utama dari pankreatitis, terhitung 80-90% dari semua kasus. Kasus-kasus yang tersisa adalah karena berbagai alasan, seperti terpapar bahan kimia tertentu, genetika, cedera akibat kecelakaan, infeksi atau kelainan pada pankreas atau usus, atau kadar lemak tinggi dalam darah. Dan mengatakan bahwa konsumsi mie instan akan berbahaya bagi kesehatan seseorang, dan bahwa hal itu merupakan penyebab pankreatitis adalah tidak benar.






Mitos : Mie instan tidak boleh dimakan langsung tanpa dimasak terlebih dahulu.
Fakta : Tidak benar.




Dalam proses pembuatan mie instan telah melalui tahap penggorengan pada suhu tinggi (120-150 C), dan bisa dipastikan bahwa mikroba akan mati pada suhu tersebut. Sehingga mie instan aman dan boleh dimakan   langsung (tanpa dimasak) dengan menaburkan bumbunya layaknya snack/ makanan ringan.






Mitos : Penggunaan styrofoam berbahaya bagi kesehatan, apalagi jika styrofoam terkena air panas, seperti ketika memasak mie instan dalam cup.
Fakta: Styrofoam untuk mie instan cup terbukti aman digunakan, karena telah melewati standar BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).


Cup yang dipakai mie instan adalah styrofoam (expandable polysteren) khusus untuk makanan (food grade). Ia memang bisa menyerap panas. Ini terbukti setelah diseduh air panas, tidak terasa panas di tangan ketika dipegang. Tetapi, karena proses pressing-nya memenuhi standar, tidak menyebabkan molekul styrofoam larut (rontok) bersama mie instan yang diseduh air panas. Jadi, jika selama ini khawatir dengan mie instan menempel pada cup-nya ketika diseduh air panas, semata-mata disebabkan tingginya kadar minyak dalam mi (sekitar 20%).

Selain itu, expandable polysteren yang digunakan mie instan cup telah melewati penelitian BPOM dan Japan Environment Agency sehingga memenuhi syarat untuk mengemas produk pangan. Berdasarkan penelitian tersebut, kemasan ini aman digunakan.







Mitos : Mi instan menggunakan bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan.
Fakta : Dalam proses pembuatannya mie instan menggunakan metode khusus agar lebih awet, namun sama sekali tidak berbahaya.


Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu cara pengawetan mie instan adalah deep frying yang bisa menekan rendah kadar air (sekitar 5%). Metode lain adalah air hot drying (pengeringan dengan udara panas). Inilah yang membuat mie instan bisa awet hingga 8 bulan, asalkan kemasannya terlindung secara sempurna.

Kadar air yang sangat minim ini, tidak memungkinkan bakteri pembusuk hidup apalagi berkembang biak. Malah, mie instan tidak beraroma tengik serta tidak menggumpal basah. Langkah terakhir untuk memastikan mie instan layak konsumsi adalah perhatikan dengan seksama tanggal kadaluarsanya.






Mitos : Mi instan mengandung sedikit serat, tapi kadar karbohidratnya tinggi sehingga bisa menyebabkan gangguan pencernaan.
Fakta : Kandungan mi instan sungguh beragam, tak hanya karbohidrat. Tapi juga kadar protein yang tinggi disertai vitamin-vitamin.


Pada dasarnya tak ada satu jenis makanan di dunia ini yang dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi tubuh. Kecuali ASI untuk bayi di bawah 6 bulan. Oleh karenanya, setiap makanan yang dikonsumsi manusia harus dilengkapi kandungan lain. Minimal 37 jenis dalam satu makanan, agar zat gizi di dalamnya saling melengkapi kebutuhan manusia.

Mie instan, selain mengandung protein, lemak, juga diperkaya vitamin A, C, B1, B6, B12, niasin, folat, pantotenat dan mineral besi. Mie instan pun telah dilengkapi sayuran, misalnya wortel. Namun, jumlahnya memang tak sebanyak yang diperlukan. Jadi, mie harus dilengkapi makanan lain.
Dalam setiap kemasan mie instan, selalu tergambar saran penyajian. Itulah yang harusnya dilakukan jika ingin makan mie instan dan mendapat asupan gizi.

Tambahkan telur, sayur, atau daging, sehingga mie instan bisa memenuhi kebutuhan gizi. Lalu minum jus buah tanpa gula, sehingga sumbangan fruktosa bagi tubuh terpenuhi. Variasikan juga cara penyajiannya, agar tak lekas bosan.

1 komentar: